Sejarah

Sejarah Earth Hour dimulai pada tahun 2007 di Kota Sydney, Australia. Saat itu, WWF Australia, Fairfax Media, dan Leo Burnett bekerjasama untuk melakukan kampanye pengurangan gas rumah kaca di kota tersebut. Tujuan utama dari kampanye/ gerakan ini adalah mengajak masyarakat seluas-luasnya sebagai individu, komunitas, praktisi bisnis, dan pemerintah untuk menjadi bagian dari perbaikan lingkungan. Dimulai dengan mematikan lampu selama satu jam, dari pukul 20.30 – 21.30 waktu setempat sebagai simbol kontribusi terhadap perubahan iklim.

Pada tahun 2008, Earth Hour menjadi sebuah kampanye global yang diikuti oleh 37 kota di 35 negara di seluruh dunia dengan partisipan mencapai 50 juta orang. Pada tahun berikutnya, gerakan ini diikuti oleh 4.000 kota di 88 negara dengan 1 milyar partisipan, termasuk di dalamnya Indonesia yang diwakili oleh Kota Jakarta. Selanjutnya pada tahun 2010, di Indonesia, gerakan ini diikuti pula oleh dua kota lainnya, seperti Bandung dan Yogyakarta. Dimana secara global, partisipan di tahun tersebut meningkat drastis menjadi 4.616 kota di 121 negara dengan 1,5 milyar partisipan.

Gerakan Earth Hour di Kota Bandung mulai terorganisir pada tahun 2011, tepatnya pada tanggal 2 Maret 2011 oleh JKBBE (Jaringan Komunikasi Bandung Bijak Energi), sebuah komunitas yang terdiri dari berbagai lembaga. Para partisipan sepakat untuk berkolaborasi dan menjadikan gerakan global Earth Hour sebagai program utama tahunan untuk diadakan di Kota Bandung.

Selanjutnya lihat: Latar Belakang Program Earth Hour Bandung 2017